Rabu, 1 September 2010

Suka Melawan/Berlawan

Salam Akhir Ramadhan,

Secara sedar atau tidak sedar,kita sebenarnya dilahirkan dengan satu sifat yang cukup nyata:suka melawan,seawal saat kelahiran kita lagi.waktu emak bergelut melawan sakit dan bapak berpeluh melawan bimbang,kita mempamerkan keinginan melawan itu melalui tangisan dan raungan.

Sifat itu kemudianya membesar bersama kita,Kita seronok melakukan apa yang emak bapak kata `jangan`,kita sentiasa membolehkan apa yang orang kata `tak boleh`.Sifat melawan ini kemudian berkembang menjadi berlawan.Keduanya(sifat melawan/berlawan sedar atau tidak kita bawanya hingga ke akhir hayat.Keduanya bukan sekadar menjadikan hidup kita lebih bermakna dan berwarna,malah menjadi motivasi kita teringin nak hidup sampai bila-bila  pehh.
Cuba bayangkan kalau manusia tidak ada sifat ingin berlawan dan melawan ni,bayangkan pasukan bolasepak Piala Dunia bilamana kedua pasukan sekadar sepak pi sepak mai je bola tu,tanpa berkeinginan nak jaringkan gol atau bayangkan tentera gi berperang tanpa niat nak menang,takde tembak menembak,bunuh membunuh,malah mungkin time tu tentera-tentera kedua pihak sedang bertepuk tampar sambil main dam aji,atau terup keling.

Dunia pulak takkan berkembang,manusia akan jadi seperti batu atau kayu je layaknya,disepak takpe,diterajang sengih je,nak membiak pun harapkan proses luluhhawa je,lebih lagi kalau jadi pokok,setakat boleh berbuah melalui pensenyawaan /pendebungaan,maka jangan harap nak mengorat ,buat majlis kahwin atau mengawan,tapi sekurangnya takde la duk berani kerja buang anak merata-merata.

Pointnya disini,sebagai manusia,patut sangat kita merenungi nikmat sikap ini dan juga mensyukurinya,tu kan sifat fitrah Allah berikan.Sifat inilah menjadikan kita berusaha menjadi lebih baik daripada orang lain,sifat inilah menjauhkan kita dari putus asa.Dalam masa yang sama juga jika silap kirup dengan sifat ini ,kita boleh lingkup didunia dan juga di akhirat.

Dalam Ramadhan inilah antara waktu terbaik untuk kita buktikan sama ada kita cuma jenis yang pandai melawan emak bapak serta adat dan peraturan atau jenis pandai melawan kehendak dan perasaan.Lebih tepat lagi,apakah kita ni jenis yang bukan main lagi `melawan`Tuhan tapi cukup tak berani melawan Syaitan...fikir-fikirkanlah

GG 580-2002.




Khamis, 26 Ogos 2010

Loghat Pahang

Setiap daerah ada sebutan berbeza,ni sebahagian dari perkataan-perkataan digunakan dalam percakapan seharian orang Pahang.(Sumber portal komunitipahang.com).TQ.Akan ditambah dari semasa kesemasa.

A
Ampuh – tenggelam/melepasi sesuatu tahap ketinggian
Auk,awok,aok - awak/kamu
Ame - kalau
Atan/Tan - gelaran untuk anak lelaki yang paling tua
Abu - pemberian hadiah kepada seseorg berupa binatang ternakan atau nak pokok buah-buahan
Ace - cuba
Anggur - pengalihan anak benih dari tapak semaian ke tempat penanaman kekal
Ambung - bakul diperbuat dari rotan yang disandang di belakang badan pemakainya

B
Babir – Degil
Bahan - Pukul.
Berlengging - Tak Pakai Baju, Pakai Seluar Jer
Berlemin - Berminyak
Biroh - Gatal
Buas - Lasak
Buboh - mengisi/meletak
Berambi - Berhati-Hati/Berwaspada
Borok - bersembang-sembang
Beraluih/Beralus - Perangai Yang Sopan Santun/Berbudi Bahasa
Bela – Baiki
Botok-botak
Bendeh,mendeh,bende - benda apa
Belah - bahagian/tempat asal
Bakpe - mengapa
Buat dek' - buat tak tahu aje
Berempong - tersadung (selalu dipakai untuk lembu/kerbau yang kaki terikat pada tali)
Belewok/ bewok - biawak
Boboih - bekas berisi barang bocor
Boko - talam
Bolin - tidak berpakaian
Boh - Abah
Bek - emak (sesetengah tempat di pahang tengah)
Bulo’ – penglihatan hampir-hampir nak buta
Bobok - menipu.

C
Ce - Awalan Pada Beberapa Perbuatan
Cemuih - Bosan
Chike - Mual/Muntah/ Perut Memulas
Cokeng - Tegak
Cakner - Ambil Peduli/Kisah
Cerang - mata masuk abuk
Cope - tepi
Chengin - budak bila diusik mudah menangis
Celor - keadaan cuaca tidak baik dengan hujan beserta ribut dan petir sabung menyabung
Cebek - jinjing
Ciput - cabut lari kerana takut atau dikejar sesuatu
Cembong - gelaran kepada ...
Cak Bang/Cik Abang - isteri kepada abang yang tua
Celapus - celupar
Cokoh - tercegat berdiri

D
Dan - Sempat
Doh - Sudah
Deme - Awak(Biasanya Utk Ramai)
Dedor - Suam-Suam Kuku
Deras – cepat/laju
Dedeh – hiris/potong
Debab - gelaran bagi budak lelaki yang badan besar

E
Endi/mengendi - mengada-ngada
Entoh – entah
Encik - ayah (sesetengah tempat di pahang tengah)
Embong/Mbong - adik beradik yang paling tua (seerti dengan 'Long')
Engsot – beralih sedikit tempat duduk
Embuh - mahu/hendak

G
Godei - mengacau-ngacau Air/Dodol
Gebor - Selimut
Gonyoh - Sental Kuat-kuat
Gamoknye - agaknya
Gasok - suka hati awaklah/ikut awaklah
Gonggot - Rambut Yang Digunting Tak Sekata
Gobok - rak/almari
Gebala - ambil tahu/menyibuk
Gembur - banyak/tebal (merujuk kpd duit)
Guai - berayun
Ghempoh - membaling kayu atau sesuatu ke arah kaki/betis bagi tujuan menjatuhkan / menumbangkan orang / binatang
Genyus/Tergenyus - terperanjat
Gembut/tergembut-gembut – suatu pergerakan berlaku di bawah sesuatu yang terselindung seperti dibawah daun, semak atau selimut

H
Hele' - tarik (guna tangan)
Hogoh - menggegar sesuatu dengan kuat
Hugon - hantuk kepala ke dinding
Hurong – dikelilingi/dihinggapi secara banyak oleh serangga (biasanye semut/lalat)
Hokme/aukme - kalian
Hampuras - perkataan marah dan celaan yang membawa maksud "tak guna"

I
Incit - halau keluar rumah
Iblis Koreng - perkataan marah dan celaan yang membawa maksud "perangai jahat yang teramat sangat"

J
Jabir - beg plastik
Jobing - rambut kanak-kanak lelaki yang telah panjang dan tidak terurus.
Jelobe - koyak rabak
Jebek - gaya memek muka
Jaras - sedang meningkat remaja/muda
Jas - menitik
Joho – bersepah-sepah

K
Koi/kath/Kahs/kawas/kawan - Saya
Keh/koing/kame - Saya
Komeh/(mengkin)/(ayeh) - Saya
Kome - Kami
Kohut - letih/sengal /tak larat
Karang - Nanti/Sebentar Lagi
Ketnyer - Lebih Kurang/Walaubagaimana.
Kenit - Kecil
Komeng - buah kelapa yang tiada isi (Kosong)
Kerang - buruk dalam keadaan keras
Keryin - tersengih
Kenai – kenal
Kebiaran - liar
Kelompeng - bekas isi barang dari mengkuang
Kelewok - terkoyak
Kulu/kilir - ke hulu/ ke hilir (menunjukkan arah berpandukan sungai).
Kancah - kuali besar (ada telinga tapi bersaiz kecil dari kawah)
Kemamor – pandangan kabur
Kayau – pening-pening
Kayching – cacat sebelah penglihatan

L
Lejut - basah
Lecoh - becak/ada lopak air/ada air bertakung
Layau – terhuyung-hayang
Lehit – melekit
Lempor – membaling
Lesir - baling/lontar
Lokoih - comot
Londang - tasik kecil di kawasan lembah
Layur - memanaskan sedikit menggunakan api
Lece - tilam
Lepa - tercuai
Lanpan - dulang
Linuk - leka
Lat - selang/senggang beberapa
Lempap - perapan lauk bersama rempah ratus di dalam periuk
Lempang - tampar
Lewat amat - melampaui atau melebihi had/boleh sangat

M
Moh - Jom
Mok - Mak/Ibu
Meleweh - cakap nok tak nok
Mereloh - Tidor
Melantong - Busuk Sangat
Merebang/Mengerebang - Rambut Tak Terurus
Merening -Benda Yang membulat besor
Menginding - datang dekat secara diam-diam
Merepih - mencantas/mencangkul rumput
Mengopeh - Suka Pegang Sana..Pegang Sini..Tangan Tak Duduk Diam
Melukah - Kain Yang Dipakai Terbuka (terkangkang)
Motong - Menoreh Getah
Mencelabak - Benda Jatuh Dalam Jumlah Yang Banyak/Berat
Mengkane - Telekung Sembahyang
Menanggah/penganggah - bergotong royong semasa kenduri
Membego - digunakan kepada budok kecik yang mengamuk dan buat perangai
Molo - balang
Mutan - rambutan
Meknye – kenapa
Maymay - orang yang suka menangis (chengin)
Mentik - menunjukkan keadaan tubuh seseorang yang seakan buncit atau berisi
Mokyoh - karenah/ragam
Mok De - ibu tiri
Meh-meh – rupa hamper sama
Maynoh - menukar haluan perjalanan
Mumbu - mengisi sesuatu tinggi membukit melampaui bekasnya.
Merelang - menjegilkan mata dengan keadaan marah
Memerun – membakar sampah sarap / kayun kayan selepas ditebang semasa penanaman semula

N
Nyuluh - Operasi buru binatang pada malam hari
Ngilir - Menghala Kehilir Sungai.(Dengan Bot/Perahu) Secara Perlahan.
Nok - nak/hendak
Ngeropeh - kerja tak tetap
Ngelat-tipu
Neremih - pengotor
Ngempor - tak seimbang
Nine - gelaran untuk anak perempuan yang paling tua
Nangun - sejenis khinzir yang banyak anak
Ngelempai - sesuatu yang melayang-layang ditiup angin tetapi tidak terputus dari pegangan.
Ngelewor – huyung-hayang
Ngelayor – berkeliaran
Nyongkit – mengada-ngada
Ngepong - menggigit makanan seperti daging seakan-akan menggonggong
Ngonceh – berjalan kesesuatu arah
Ngugas – berjalan cepat untuk selesaikan sesuatu tugas/tujuan
Nyor gula - kerisik
Nyeluak - muak

O
Omeh – Suka Membebel

P
Pedooh - Tipu
Pundung - Rumah Kecik Yang Dibuat Untuk Berehat
Pepalih - ..Ishh. ..Teruknye
Podot - Sumbat
Po/Pa - beg duit (purse/wallet)
Peleseran - merayau
Perentan - musim
Pejur - tengkujuh
Penganan - kuih
Para - satu bahagian di kawasan bumbung rumah yang digunakan untuk meletakkan barang-barang
Pogheng - comot
Parap - tumbukan dengan bawah tangan
Pohor – tempat melekatkan bunga telor atau sireh junjung
Pantak – ketuk
Panggil - majlis kenduri kahwin
Pinggan Ayan - pinggan diperbuat daripada besi
Parang Putting - parang yg tumpul, berkarat dan tidak ada hulu pemegang

R
Rodong/Ghodong - kawan-kawan
Rhebas - Hujan Dah Mula Turun Renyai-renyai
Ralit - Kusyuk/memberi tumpuan terlalu sangat
Re'e - letih/penat/lenguh
Rege - harga
Reloh - hari semakin malam
Renjeng - kurus tinggi
Raymoh - sepahan makanan di atas lantai
Randuk - meredah/megharungi rintangan spt air atau semak samun
Rasa Siau-Siau - rasa seperti nak demam
Rentek - juga
Rembat - khemah tempat makan tetamu semasa kenduri kahwin

S
Sesemut - Kaki Kebas
Sangei - Tudung Saji
Se'eh - Kenyang Yang Teramat Sangat
Senaklo/Sokmo - Selalu
Senoho - Sana
Soom-suam
Sompek - sumbing
Sepat - proses membuang kulit binatang yang telah disembelih.
Sigal - tangga buluh
Sengkul – tangan belok dan tak lurus
Seruh - proses penghadaman makanan
Siyo' - mangkuk tingkat
Sabak - khemah memasak semasa kenduri kahwin
Sempudai - kerja yang tidak kemas dan tersusun atau cincai

T
Tatin - mengangkat / mengutip
Tawor lebe - Air tawar sangat
Tohor - Cetek
Tekih/tekis - nyaris / tepi sesangat
Tala-paling / menunjukan
Tajur - kaedah memancing dengan meletakkan umpan hidup, batang pancing ditinggalkan dengan dipacak di tepi tebing dan pancing akan diangkat untuk beberapa masa yang lama.
Takar - tempayan diperbuat dari tanah liat
Tengke - selang/senggang beberapa
Tumpil - menolak ke bawah dari tempat yg tinggi
Tupai chor - sejenis tupai tanah (bersaiz kecil)
Tinjit - berjalan/berdiri di atas anak jari kaki sementara tumit diangkat ke atas
Tak Aci - tak adil/padan
Telohkan lagi – lebih lagi pula/berganda ukurannya
Tengkuh - ketukan secara perlahan dengan tangan
Tok Empat - ketua kampung
Tak Ketahuan Angkuh - tingkah laku yang tidak baik
Terpukang - jatuh ke belakang
Tulah - ditimpa darjat

U
Unduk - sorok
Ubang - kulit batang getah yang tertanggal selepas torehan. Sesetengah orang mencampurkannya dengan susu getah di dalam cawan tadahan.
Ubi Kembili - sejenis ubi seperti keledek tetapi mempunyai lendir dan melekit.

W
Wokme - awak semua
Wok - gelaran kepada anak yang tua atau yang bongsu sama ada lelaki atau perempuan
Wan/Wek - nenek (sesetengah tempat di Pahang Tengah)
Waris-warah - saudara mara

Z
Zaman Tori - zaman dahulukala


Sabtu, 21 Ogos 2010

Peristiwa Nuzul Al-Quran

Perbahasan tarikh sebenar Nuzul Al-Quran .Hasil tulisan sahabat lama semasa di Maahad al-Muhammadi Kota Bharu sekitar awal 80 an dulu.Walau apapun 27 hb ni Malaysia tetap cuti Nuzul al-Quran..jangan bimbang yer hhehe

PERBINCANGAN TARIKH NUZUL AL-QUR’AN

Ulama’ berselisih pendapat berhubung bilakah al-Qur’an diturunkan.
Pendapat yang agak masyhur mengemukakan 17 Ramadhan sebagai tarikh nuzul Al-Qur’an.  Pendapat ini dipegangi sebahagian ulama’ sirah.

Antara ulama’ sirah yang kuat berpegang kepada pendapat ini ialah Syaikh al-Khudhari dalam karyanya; Muhadharat Tarikh al-Umam al-Islamiyyah.[1] Pendapat ini merujuk kepada suatu riwayat daripada al-Waqidi menerusi Abu Ja’far al-Baqir yang mengatakan bahawa (penurunan ) wahyu kepada Rasulullah s.a.w  bermula pada hari Isnin, 17 Ramadhan dan dikatakan pada 24 Ramadhan. Riwayat ini dinyatakan oleh al-Hafiz Ibn Kathir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah:

روى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين لسبع عشرة ليلة خلت من رمضان وقيل في الرابع والعشرين منه. 
Ada suatu hal yang agak menarik dalam kita membincangkan pendapat yang menyatakan 17 Ramadhan sebagai tanggal nuzul Al-Qur’an. Setelah saya meneliti kitab Sirah Ibn Hisyam berhubung tajuk “ Ibtida’ Tanzil Al-Qur’an” ( Bermulanya nuzul Al-Qur’an ), terdapat semacam satu kekeliruan apabila Ibn Hisyam ada membuat  catatan berikut:

قال ابن إسحاق: فابتدئ رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتنزيل في شهر رمضان، يقول الله عز وجل: ] شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان هدى للناس وبينت من الهدى والفرقان [ وقال الله تعالى: ] إنا أنزلنه في ليلة القدر … [ ...وقال تعالى: ] إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان [. وذلك ملتقى رسول الله صلى الله عليه وسلم والمشركون ببدر.
قال ابن إسحاق: وحدثني أبو جعفر محمد بن علي بن حسين: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم التقى هو والمشركون ببدر يوم الجمعة، صبيحة سبع عشرة من رمضان.
قال ابن إسحاق: ثم تتام الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، وهو مؤمن بالله مصدق بما جاءه منه ...إلخ[3]
Jika diperhatikan dan dihalusi, kenyataan di atas semacam mengaitkan elemen ‘al-furqan’ yang terdapat dalam al-Qur’an dengan ‘hari al-Furqan’yang membezakan antara haq dan batil yang merujuk kepada hari Peperangan Badr yang berlaku pada 17 Ramadhan. Oleh kerana perkara ini disebut di bawah tajuk “ Ibtida’ Tanzil al-Qur’an”, berkemungkinan ada pihak yang memahami bahawa nuzul Al-Qur’an juga berlaku pada tarikh yang sama.

Pendapat-pendapat lain tentang nuzul Al-Qur’an sebagaimana diutarakan oleh Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri, ianya berlaku pada 7 Ramadhan, ada yang mengatakan 18 Ramadhan. Beliau sendiri membuat pilihan dan tarjih yang berbeza dengan ulama’ lain. Menurut beliau, nuzul Al-Qur’an jatuh pada 21 Ramadhan. Antara alasan yang dikemukakan seperti berikut:

1-         Semua ulama’ sirah atau majoriti dari kalangan mereka sepakat mengatakan bahawa Nabi s.a.w dibangkitkan pada hari Isnin berdasarkan hadith Abu Qatadah r.a dalam Sahih Muslim dan lain-lain.

2-         Hari Isnin pada tahun Nabi s.a.w dibangkitkan jatuh sama ada pada hari 7 Ramadhan, 14 Ramadhan, 21 Ramadhan dan 28 Ramadhan. Hadith-hadith yang sahih ada menyebut bahawa malam al-Qadr tidak berlaku melainkan pada malam-malam ganjil, sepuluh malam terakhir Ramadhan.

3-         Setelah dibuat perbandingan antara firman Allah: ( إنا أنزلنه في ليلة القدر ) dan riwayat Abu Qatadah tentang penentuan hari Isnin sebagai hari Nabi s.a.w dibangkitkan serta dipadankan dengan perhitungan taqwim yang tepat bilakah sebenarnya jatuh hari Isnin pada bulan Ramadhan tahun kebangkitan Nabi s.a.w, jelaslah bahawa baginda dibangkitkan pada malam 21 Ramadhan.[4]


Pendapat seterusnya, nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan. Pendapat ini berdasarkan hadith berikut:

قال الإمام أحمد: حدثنا أبو سعيد مولى بني هاشم، حدثنا عمران أبو العوام عن قتادة عن أبي المليح  عن واثلة ابن الأسقع أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أنزلت صحف إبراهيم عليه السلام في أول ليلة من رمضان، وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلت من رمضان، وأنزل الله الفرقان لأربع وعشرين خلت من رمضان.[5]
Hadith di atas dihukumkan hasan oleh Syaikh al-Albani, manakala Syaikh Ahmad Shakir menghukumkan sanad hadith ini sebagai sahih.
Menurut al-Hafiz Ibn Hajar, hadith di atas bertepatan dengan firman Allah SWT   (Surah al-Baqarah: Ayat 185):
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان
Dan firmanNya ( Surah al-Qadr : Ayat 1 ) :

إنا أنزلنه في ليلة القدر

Kata beliau,  berkemungkinan lailah al-Qadr berlaku pada tahun kebangkitan Nabi s.a.w pada malam tanggal 24 Ramadhan di mana Al-Qur’an diturunkan secara sekali gus ke langit dunia dan pada masa yang sama ( 24 Ramadhan ) wahyu pertama diturunkan, iaitu firman Allah SWT :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  
Imam al-Tabari juga ada menyebut satu riwayat dengan sanadnya menerusi Sa’id Bin Jubair daripada Ibn Abbas r.a katanya: Al-Qur’an diturunkan sekali gus dari Lauh Mahfuz pada malam 24 Ramadhan, kemudiannya ia ditempatkan di Bait al-‘Izzah.[7]

Imam al-Qurtubi pula menyebut hadith Wathilah Bin Al-Asqa’ di atas dan menyatakan bahawa hadith tersebut merupakan dalil atau hujah yang terhadap pendapat Hasan al-Basri yang menegaskan bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.[8]

Al-Hafiz Ibn Kathir juga ada membawa hadith Wathilah ini dalam mentafsirkan maksud ayat 185, Surah al-Baqarah, kemudian beliau menyatakan bahawa Ibn Mardawaih juga ada meriwayatkan hadith daripada Jabir Bin ‘Abdullah r.a seumpama hadith Wathilah dengan sedikit perbezaan pada matan hadith berkenaan.[9] Beliau juga ada menyebut hadith ini dalam al-Bidayah wa al-Nihayah  dan menyatakan bahawa berdasarkan hadith Wathilah ini, sebahagian ulama’ dari kalangan para sahabat dan tabi’in berpendapat bahawa malam al-Qadr berlaku pada malam 24 Ramadhan.[10]

Turut menyebut hadith Wathilah ,Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani di mana beliau mengambil hadith ini  bagi menjelaskan nuzul Al-Qur’an berlaku pada tanggal 24 bulan Ramadhan.[11]
 
Kesimpulan yang dapat dibuat setelah meneliti pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas berhubung hari nuzul Al-Qur’an seperti berikut :

1-         Pendapat yang menyebut nuzul Al-Qur’an jatuh pada 17 Ramadhan bersandarkan riwayat al-Waqidi. Menurut ulama’ al-Jarh wa al-Ta’dil, al-Waqidi ( m. 207 H ), nama penuh beliau: Muhammad Bin Umar Bin Waqid al-Aslami  seorang perawi yang lemah ( matruk ) dan tidak diterima riwayatnya[12]. Pendapat ini juga ditolak oleh Syaikh al-Zurqani kerana ia bercanggah dengan pendapat yang masyhur lagi sahih.[13]

2-         Pendapat Syaikh Safiyy al-Rahman al-Mubarakfuri yang menyatakan nuzul Al-Qur’an jatuh pada tanggal 21 Ramadhan merupakan cetusan ijtihad beliau semata-mata berdasarkan penelitian beliau terhadap hadith Abu Qatadah dan perkiraan taqwim yang dipegangi beliau. Malam al-Qadr boleh berlaku pada malam-malam genap dan juga boleh berlaku pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

3-         Pendapat yang menyebut bahawa nuzul Al-Qur’an jatuh pada 24 Ramadhan adalah kuat dan rajih. Ini berdasarkan kepada perkara-perkara berikut:

I-           Pendapat ini bersandarkan hadith marfu’ yang sahih dan diperakui oleh tokoh-tokoh dalam bidang hadith. Sebagaimana yang termaklum, apa jua permasalahan dalam Agama Islam perlu dirujuk kepada nas Al-Qur’an dan hadith. Dalam hal ini, hadith Wathilah Bin al-Asqa’ adalah rujukan utama dalam menentukan bilakah berlakunya nuzul Al-Qur’an.

II-        Matan hadith dengan jelas menyebut bahawa al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.

III-     Maksud atau mafhum hadith diterima pakai oleh ulama’ muktabar dari kalangan ahli hadith dan para mufassirin dan dijadikan hujah bagi menetapkan tanggal 24 Ramadhan sebagai tarikh tepat bagi nuzul Al-Qur’an. Rujuk kata-kata al-Hafiz Ibn Hajar, Imam al-Qurtubi dan al-Hafiz Ibn Kathir.

Oleh:
Dr. Ahmad Najib Abdullah – Pensyarah UM, Nilam Puri.
anis_alqari@yahoo.com

RUJUKAN

1] Lihat: al-Mubarakfuri, Syaikh Safiyy al-Rahman, al-Rahiq al-Makhtum, Beirut : al-Maktabah al-Thaqafiyyah, h77.
[2] Al-Dimisyqi, Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut : Dar al-Fikr, 3/6.
[3] Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah,1/239-240.
[4] Lihat: al-Rahiq al-Makhtum, h.77
[5] Imam Ahmad,al-Musnad , Beirut : al-Maktab al-Islami 4/107, al-Baihaqi , al-Sunan al-Kubra 9/188, al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, No 185. Al-Tabari, Ibn Jarir, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an, ( Tahqiq: Ahmad Shakir ),al-Qahirah: Dar al-Ma’arif, 3/446, Al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, No 1575. Lihat : Yasin, Dr. Hikmat Bashir,( 1994 ), Marwiyyat al-Imam Ahmad Bin Hanbal Fi al-Tafsir, Riyadh: Maktabah al-Muayyad, 1/128.
[6] Al-‘Asqalani, Ibn Hajar,( 1988 ), Fath al-Bari, al-Qahirah: Dar al-Rayyan li al-Turath  8/621.
[7] Al-Tabari, Jami’ al-Bayan 3/445.
[8] Al-Qurtubi, Muhammad Bin Ahmad al-Ansari, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Beirut: Muassasah Manahil al-‘Irfan 2/198
[9] Al-Dimisyqi, Ibn Kathir, ( 2004 ),Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub,  2/180, lihat juga: 14/411
[10] Lihat: al-Bidayah wa al-Nihayah, 3/6
[11] Al-Albani, Muhammad Nasiruddin,( 1421 H ), Sahih al-Sirah al-Nabawiyyah, Amman : al-Maktabah al-Islamiyyah, h.90
[12] Al-Baghdadi, al-Khatib, Tarikh Baghdad, 3/31, al-Zahabi, Muhammad Bin Ahmad Bin Uthman, ( 1992 ), Siyar A’lam al-Nubala’,Beirut : Muassasah al-Risalah,  9/454, 469, Ibn Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta’dil, 8/20
[13] Lihat: Manahil al-‘Irfan, 1/52

Ahad, 15 Ogos 2010

Ramadhan:Iman / Ikhlas/Taqwa

Salam Ramadhan

Tazkirah Oleh Ustaz Yusuf Embong(UYE) Kuantan.

Jumaat, 13 Ogos 2010

Tunaikanlah Sembahyang

Hitungan Matematika, kenapa orang tidak sholat itu sombong kepada Allah:
Di umpamakan jika kita hidup 60 tahun lamanya, Insya Allah. Di dalam 60 tahun, kita hidup sekitar 31,536,000 minit.
Hitungannya: 60 minit x 24(jam) x 365(hari) x 60(tahun) = 31,536,000 minit

Untuk Shalat 5 waktu sampai kita umur 60 tahun, kita perlu:
5 menit x 5 (waktu) x 365(hari) x 49(tahun) = 447,125 minit

Kenapa dikali 49? karena kita diwajibkan sembahyang pada saat umur 12tahun.* Jadi 60 tahun - 11 tahun = 49 Tahun

447,125 dibagi 31,536,000 dikali 100=1.4 %

Kita cuma perlukan 1.4 % dari hidup kita untuk mengikuti perintah bersembahyang kepadanya. Jadi sebenarnya kita  sombong sekali denganya kalau tidak sembahyang 5 waktu tersebut.Di bulan Ramadhan ini tambahkan dengan ibadat Tarawikh 8@20 rakaat ,witir antara 1@3 rakaat atau lebih,tahajjud dll.

* Jangkaan.


Sumber asal-www.juhadi.co.Jazakumullah khair al-jaza.

Isnin, 9 Ogos 2010

Marhaban Ya Ramadhan

Mari kita kenali penentuan hari,anak bulan,bulan bagi kegunaan am,ibadat harian dan bulanan serta penentuan awal Ramadhan dan Syawal.

Taqwim Istilahi.(kegunaan am).

1-Berdasarkan Hadis Riwayat Muslim,
(Sesungguhnya kami kaum yang tidak tahu membaca, dan menulis dan mengira,bahawa bulan itu sekian,bulan ini sekian,yakni umur ada ketikanya  29 hari dan ketika yang lain 30 hari)

2-Ketetapan kahlifah Rasulullah,Sayyidina Omar r.a bahawa awal hijrah (1 Muharram 01 H) bermula pada hari Khamis(malam Jumaat bersamaan 15 Julai tahun 622 masehi dengan ru`yah pada malam Jumaat tersebut.

3-Bilangan hari dalam satu pusingan 30 tahun hijrah ialah 10631 gari dan dibahagi kepada 354 hari dalam 19 tahun basitah(biasa) dan 355 hari bagi 11 tahun (kabisah-lompat ).

Taqwim Hakiki.(ibadat harian dan bulanan).

Suatu takwim berdasarkan masa ijtima* sebelum ghurub matahari pada akhir bulan hijrah.Sekiranya ijtima` berlaku sebelum ghurub matahari,maka esoknya dikira awal bulan hijrah baru tanpa mengambil kira anak bulan mungkin kelihatan(boleh rukyah) atau tidak.

Dengan ini bilangan hari di dalam bulan-bulan hakiki lagi berselang 29 atau 30 hari,tapi adakalanya berturut-turut 29 atau 30 hari selama tidak lebih dari 3 bulan.

Takwim Rukyah(Awal Ramadhan/Syawal)

Suatu taqwim berdasarkan kapada rukyah(penglihatan/cerapan) cahaya anak bulan di akhir bulan hijrah.sekiranya cahaya anak bulan itu kelihatan,hari esoknya  adalah bulan baru.Jika sebaliknya digenapkan bulan lama ke hari yang ke 30.

Imkanurukyah(Kemungkinan  anak bulan boleh dilihat)

Malaysia dan negara sewaktu denganya,memakai prinsip imkanurrukyah ini.Muktamar Hilal 1978 di Turki telah bersetuju bahawa imkanurrukyah bila 3 syarat ini dipenuhi:-

a-Berlaku ijtima` kira-kira antara 8-10 jam sebelum ghurub.
b-Tinggi bulan ketika ghurub matahari tidak kurang dari 5 1/2 darjah atas ufuk.
c-Jarak bulan dari matahari ketika ghurub tidak kurang dari 71/2 darjah.

Anak bulan yang tidak kelihatan didalam syarat-syarat diatas dikira tidak kelihatan langsong.Tetapi sebaliknya jika tidak kelihatan diluar cakupan 3 syarat tersebut anak bulan dikira kelihatan(imkanurrukyah)

Mari kita praktikan syarat diatas dengan penentuan ramadhan dan syawal tahun ini.(1431 H)

Rukyah Hilal pada ghurub hari 29 syakban ialah pada pukul 7 .21pm Selasa bersamaan 10 hb 8.2010.Ijtimak berlaku pada pukul 11.09 minit dan 15 saat(pagi).Jika dikira tempoh masa ijtimak dan ghurub ialah selama.8 jam 15 min(lebih kurang).Oleh yang demikian 3 syarat imkanurukyah dipenuhi,maka  1 Ramadhan ialah pada kesokan harinya(11 Ogos 2010).Samada hilal nampak atau tidak, puasa akan diisiiharkan berdasarkan imkanurukyah.Jika langit cerah petang tersebut hilal kemungkinan besar boleh nampak ,jika langit mendung dan kemungkinan tidak nampak maka hilal tetap dikira sabit ada.

Penetapan 1 Syawal.Cerapan/rukyah hilal akan dibuat pada 8 Sept 2010(29 ramadhan),mengikut sifirnya,ghurub juga sekitar 7.20 pm(maghrib) manakala ijtima` berlaku pada jam 18/30/55(lebih kurang jam 6.30 pm),maka tempoh waktu kemungkinan nampak hilal tidak mencukupi 8 jam(minima).Oleh yang demikian 1 Syawal akan ditetapkan pada lusanya 10 Sept 2010).**

Nota:* Ijtimak
Ijtimak (conjunction) di dalam ilmu falak bermaksud “pertemuan” antara bulan dan matahari. Secara teknikalnya ijtimak ialah pertemuan bulan dan matahari di garis edar masing-masing relatif kepada kedudukan bumi. Pertemuan ini berlaku apabila bulan dan matahari berada di meridian ekliptik yang sama (longitud ekliptik bulan dan matahari, λB dan λM adalah sama; i.e. λB= λM

Bahasa mudahnya:Bulan,matahari dan bumi berada pada suatu garis pusat selari /lurus)


**
Penetapan sebenar akan di istiharkan oleh Penyimpan Mohor besar Raja-Raja.


Ruj:Pengenalan Taqwim Hijrah-Oleh Ustaz Md Khair Taib (rahimahullah) 1987


WA





Khamis, 5 Ogos 2010

Syeikhul Azhar-Di Sepanjang Zaman

Mengenali Institusi Syeikh Al-Azhar  -Oleh Dr. Mohd Rumaizuddin Ghazali        PDF Print E-mail
 
Dalam tradisi ilmu Islam terdapat pelbagai gelaran yang diberikan kepada ulamak seperti syeikh al-Islam, hujatul Islam, Imam al-Akbar dan lain-lain. Gelaran tersebut merupakan gelaran yang diberikan kepada  mereka yang menguasai ilmu-ilmu Islam dengan baik terutama dalam bidang fikah. Gelaran syeikh al-Islam merupakan gelaran yang dipakai oleh golongan salafus saleh daripada tabi’in seperti Said bin Musaib, Hassan al-Basri, Imam Laith bin Saad, Sufian al-Sauri, Abdullah bin Mubarak dan lain-lain. Sebelum tahun 1935M, mufti negeri Kedah dikenali sebagai Syeikh al-Islam dan kemudian  dikenali ketua Majma’ Masyakhatul-Islam (Ketua Persidangan syeikh-syeikh Islam)

Di Mesir, ulamak yang paling tinggi kedudukannya dikenali sebagai syeikh al-Azhar. Beliau berperanan untuk mengelola dan mengurus institusi al-Azhar. Al-Azhar yang dibina pada 359H/970M telah mempunyai 43 Syeikh al-Azhar. Mereka terdiri daripada 17 syeikh yang bermazhab Syafi’i, 16 syeikh bermazhab Hanafi, 9 syeikh bermazhab Maliki. Gelaran ini mula diperkenalkan pada abad 17M. Pada zaman Uthmaniah, syeikh al-Azhar dilantik oleh pemerintah atas sokongan daripada ulamak keempat-empat mazhab.  Pada tahun 1922, Raja Mesir berhak memilih syeikh al-Azhar diantara tiga orang yang dicadangkan oleh Majlis Ulamak al-Azhar.
 
Semasa rombakan al-Azhar pada tahun 1961, pemilihan syeikh al-Azhar diputuskan oleh Presiden dan semasa zaman Anwar Sadat, jawatan Syeikh al-Azhar adalah jawatan sepanjang hayat dan tidak boleh dilucutkan kecuali kematian. Antara rombakan pada tahun 1961 juga, Syeikh al-Azhar dikenali sebagai Imam al-Akhbar dan dianggap sebagai ketua agama yang tertinggi  dan menjadi ketua dan penasihat dalam setiap perkara yang berhubung dengan pengajian Islam dan ketua Majlis tertinggi al-Azhar. Dalam kanun ini juga disebutkan bahawa Syeikh al-Azhar dipilih  daripada kalangan  Majma’ al-Buhus al-Islamiah (Badan Penyelidikan Islam) atau mereka yang mempunyai kelayakan  yang disyaratkan oleh Majma’ tersebut. Kemudian mereka mencadangkan kepada Presiden untuk disahkan. Demikian juga dalam kanun ini diwujudkan jawatan Wakil al-Azhar (Timbalan Syeikh al-Azhar) yang memainkan peranan semasa ketiadaan Syeikh al-Azhar.

Syeikh al-Azhar yang pertama ialah Syeikh Muhamad al-Khuraysi (m. 1101H/1690M). Beliau bermazhab Maliki. Syeikh al-Azhar yang paling lama memegang jawatan tersebut ialah Syeikh Abdullah al-Shabrawi yang memegang selama 34 tahun. Beliau mula memegang jawatan tersebut pada tahun 1137h sehingga meninggal dunia pada tahun 1171H. Syeikh al-Azhar yang paling pendek memegang jawatan tersebut ialah Syeikh Abdul Rahman al-Nawawi iaitu selama sebulan. Antara syarat untuk memegang jawatan ini ialah berumur 45 tahun ke atas, terkenal dengan kewarakan dan ketakwaan, telah memiliki ijazah al-Alamiah (bersamaan ijazah M.A dan Ph.D), mempunyai pengalaman mengajar sekurang-kurangnya lima tahun di mana-mana kuliah di Universiti al-Azhar atau pernah memegang jawatan Mufti Mesir atau pernah memegang jawatan Hakim Mahkamah Tinggi Syariah. Institusi Syeikh al-Azhar ini memainkan peranan yang penting dalam mencorakkan masa depan al-Azhar. Syeikh Majid Salim (1882-1954M) menggariskan beberapa perkara yang perlu diambil perhatian oleh al-Azhar iaitu; mengkaji semula buku-buku pengajian agar bersesuaian dengan keadaan semasa, meningkatkan aktiviti penulisan dengan memberi anugerah sehingga lahirnya generasi ilmu, membina generasi al-Azhar yang kuat dalam membawa risalah Islam, menghantar ulamak-ulamak al-Azhar menjadi pendakwah dan penyelidik terutama di universiti-universiti Eropah, mengadakan hubungan dengan universiti-universiti lain dan `menggalakkan ulamak al-Azhar menulis dalam bahasa utama dunia dalam menjelaskan hakikat Islam. Syeikh Muhammad Mustafa al-Maraghi (1881-1945M) menegaskan bahawa tanggungjawab utama al-Azhari ialah memelihara syiar-syiar Islam  dengan sempurna dan tidak ada orang lain yang dapat mengatasi pemeliharaannya terhadap syiar-syiar tersebut. Ia menjadi contoh teladan  dengan tingkah laku dan perbuatannya bukan sekadar dengan percakapan. Perkara ini kerana tingkah laku akan memberi kesan yang besar kepada jiwa seseorang.

Syeikh Ibrahim Hamrus (1880-1960M) merupakan syeikh al-Azhar yang berpendirian tegas dalam melawan penjajahan Inggeris. Beliau telah menyertai peperangan melawan tentera Inggeris di Ismaliah dan menyeru rakyat Mesir atas nama al-Azhar melawan penjajah.  Akibatnya pihak penjajah telah mengadu kepada Raja Mesir untuk dilucutkan jawatannya pada tahun 1952M. Begitu juga Syeikh al-Khadir Husain (1876-1958M) yang berpendirian tegas melawan penjajahan Perancis di Algeria. Beliau pernah menulis buku mengkritik buku Ali bin Abdul Raziq yang bertajuk “Islam dan Asas-Asas Pemerintahan.”  Beliau juga pernah mengkritik buku Taha Hussain yang bertajuk “ Syair Jahiliah’  yang mempertikaikan sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail serta menganggap cerita masyarakat jahiliah itu sebagai dongeng. 

      Syeikh Abdul Halim Mahmud (1910-1978M) merupakan seorang ulamak dan Syeikh al-Azhar yang terkenal dengan kezuhudan dan kewarakan. Beliau adalah berkelulusan Ph.D dari Universiti Serbon, Perancis pada tahun 1940 dalam kajian Tasauf Islam. Tajuk Ph.D beliau ialah berkaitan tentang Haris bin Asad al-Muhasibi. Beliau dilantik menjadi Dekan Usuluddin pada tahun 1964. . Pada tahun 1970, beliau dilantik menjadi Wakil al-Azhar (Timbalan Syeikh Al-Azhar) dan pada tahun   1973 dilantik menjadi Syeikh al-Azhar. Beliau telah mengarang 68 buah buku Antara pendirian tegasnya ialah menentang Undang-Undang Kekeluargaan yang mengharamkan talak dan melarang poligami. Pada tahun 1974, pihak pemerintah telah mengeluarkan arahan agar al-Azhar dirombak dan al-Azhar dibawah penguasaan menteri yang mengakibatkan al-Azhar hilang  kebebasan. Lalu beliau telah menghantar surat kepada Anwar Sadat melepas jawatan pada 1 Ogos 1974 dan tidak akan memegang jawatan tersebut kecuali digugurkan keputusan untuk menyerahkan al-Azhar kepada pentadbiran menteri. Antara sumbangan besar beliau ialah memantapkan Majma’ al-Buhuth al-Islamiah dan menggesa agar segala harta wakaf al-Azhar dikembalikan semula kepada al-Azhar untuk dibangunkan bagi tujuan dakwah.

Antara Syeikh al-Azhar ialah Syeikh Jadul Haq Ali Jadul Haq (1917-1996M) Beliau pernah menjadi Mufti Mesir dalam era pemerintahan Anwar Sadat. Kemudian beliau dilantik Menteri Wakaf  dan kemudian menjadi Syeikh al-Azhar pada tahun 1982. Beliau mempunyai pendirian yang tegas terutama dalam menentang  Persidangan Penduduk di Kaherah  pada tahun 1994  yang mengharus perhubungan homoseksual dan mengharuskan penguguran dan Muktamar Wanita pada tahun 1995 di Beijing. Dalam kenyataannya, kedua-dua persidangan tersebut adalah bertentangan dengan nilai-nilai akhlak manusia yang waras Beliau juga telah mengeluarkan fatwa bahawa tidak harus untuk pergi ziarah bagi menunaikan solat di Baitil Maqdis sehinggalah ia dikembalikan kepada umat Islam.



Syeikh Muhamad Sayyid Tantawi merupakan Syeikh al-Azhar sejak tahun 1996. Sebelum menjadi syeikh al-Azhar, beliau pernah menjadi Mufri Mesir, Dekan Kuliah dan mengajar di Kuliah Usuluddin. Beliau mendapat Ijazah kedoktoran daripada Universiti al-Azhar dalam bidang Tafsir dan pernah berkhidmat sebagai pensyarah di beberapa universiti di Iraq, Libya dan Arab Saudi. Beliau terkenal sebagai seorang yang alim dalam ilmu tafsir dan mempunyai Kitab “Tafsir al-Wasit” sebanyak 15 jilid. Beliau juga terkenal dengan kewarakan, bercakap dengan lembut dan mudah difahami. Semasa pertemuan penulis dengan Syeikh Muhamad Sayyid Tantawi pada tahun 2004 di pejabatnya, beliau memuji Malaysia sebagai sebuah negara Islam yang maju dan berharap agar umat Islam dapat meningkatkan dakwah Islamiah. Penulis semasa belajar sentiasa mengikuti pengajiannya dan khutbah yang disampaikannya. Ini disebabkan keistimewaannya dalam menafsirkan al-Quran. Semasa era pentadbirannya, beliau sentiasa memberi perhatian kepada peningkatan dan penguasaan ilmu dalam kalangan mahasiswa Malaysia di al-Azhar. Beliau sering menyuarakan agar mahasiswa Malaysia bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menguasai Bahasa Arab dengan baik. Anugerah Doktor Kehormat yang diberikan oleh Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) pada tahun 2008 kepada Syeikh Muhamad Sayyid Tantawi merupakan pengiktirafan atas sumbangan beliau yang besar kepada mahasiswa Malaysia di al-Azhar dan dunia Islam. Penganugerahan ini juga akan mengeratkan hubungan al-Azhar dengan Malaysia terutama dalam bidang keilmuan.

Keilmuan Syeikh Muhammad Sayyid Tantawi terutama dalam bidang tafsir tidak boleh dipertikaikan walaupun beliau mempunyai perbezaan pendapat dalam beberapa perkara seperti pandangannya mengenai riba bank yang dianggap bukan salah satu bentuk  riba yang diharamkan. Beliau menyatakan perkara tersebut dalam  bukunya bertajuk “Mu’amalat al-Bunuk wa Ahkamuha al-Syar’iah”  (Muamalat Bank dan Hukum Syariat Mengenainya) yang diterbitkan pada tahun 1990. Kenyataan beliau ini telah mendapat bantahan ramai para ulamak termasuk Yusuf al-Qaradawi dan Jadul Hak Ali Jadul Hak, Syeikh al-Azhar ketika itu. Syeikh Muhamad Sayyid Tantawi juga pernah mengeluarkan kenyataan mempertahankan Islam daripada tuduhan Baba Vatikan yang mengatakan bahawa Islam tersebar melalui kekerasan, keganasan dan pedang. Majalah al-Azhar keluaran Disember 2006, menyiarkan kenyatan penuh dan sanggahan beliau terhadap isu itu sebanyak 45 halaman. Dalam kenyataan itu, beliau menegaskan bahawa Islam adalah agama yang disebarkan atas kerelaan penganutnya bukan melali paksaan. Beliau memgemukakan hujah-hujah al-Quran, al-hadis dan sejarah dalam membuktikan perkara tersebut.

Nota TJ:Syeikhul Azhar, Dr Muhammad Sayyid Tantawi rahimahullah menghembuskan nafasnya yg terakhir di Riyadh, Arab Saudi ketika usianya 82 tahun. Beliau meninggal dunia pada pagi hari ini (Rabu) 10 Mac 2010.Tempat beliau diganti oleh Rektor Al-Azhar Dr Ahmed Mohammed Ahmed Al-Tayeb hafizahullah mulai Mac 2010."  Petikan Artikel dai Minda Madani Online-Jazakumullahu khair al-Jaza`